28 Mei 2009

Upaya Guru Memotivasi Siswa

Oleh: Lorentina, S.Pd

Siswa ini tidak memiliki motivasi”. Demikian ungkapan yang sering kita dengar ketika mengomentari siswa yang tidak memperlihatkan perubahan sikap atau hasil belajar. Komentar di atas tidak boleh berhenti sampai disitu. Guru harus mencari tahu penyebab mengapa siswa tidak memiliki motivasi. Apakah motivasi merupakan barang mewah dan langka dalam dunia pendidikan sehingga tidak setiap siswa dapat memilikinya? Dapatkah motivasi ditumbuhkan dan bagaimana caranya?


Secara singkat dan sederhana, motivasi berarti dorongan atau kesiapsediaan melakukan sesuatu. Setiap perilaku manusia pada hakikatnya didasari motif tertentu baik disadari maupun tidak. Motivasi dapat tumbuh dengan sendirinya (internal), namun lingkungan pun dapat menjadi stimulator yang efektif untuk memotivasi (eksternal.


Dalam dunia pendidikan, motivasi memiliki peran penting terutama yang berkaitan dengan usaha siswa dalam mengoptimalkan potensinya. Berbagai upaya pasti telah ditempuh guru untuk meningkatkan motivasi siswa. Namun terkadang hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Memotivasi itu tidak sekadar cuap-cuap menuturkan nasehat panjang lebar bahwa masa depan itu penting karena pada dasarnya siswa juga menyadari hal itu. Yang harus dicari penyebabnya adalah mengapa siswa masih berleha-leha padahal dia tahu kebenaran nasehat yang guru ucapkan.


Motivasi, sebagai suatu kekuatan, bukan merupakan substansi yang langsung dapat diamati. Namun, dapat diidentifikasi dari beberapa indikatornya, yaitu dari lama tidaknya siswa melakukan kegiatan, frekuensi kegiatan, ketekunan mencapai tujuan, dan bagaimana pengorbanannya dalam mencapai tujuan (uang, tenaga, waktu, pikiran bahkan nyawa).


Guru memiliki peran strategis dalam membantu siswa untuk meningkatkan motivasinya. Tidak perlu kecewa terhadap respon dan hasil yang didapat, yang penting guru telah dan terus berusaha. Seribu guru pasti memiliki beribu cara, namun setidaknya beberapa upaya di bawah ini dapat bermanfaat dan menambah khasanah pemahaman kita dalam membimbing siswa.
(1) Tidak pelit memberikan pujian bila siswa memang pantas mendapatkannya. Dengan pujian yang sesuai (tidak berlebihan), siswa akan merasa dirinya berharga. Perasaan berharga akan memengaruhi konsep diri yang pada akhirnya berpengaruh pula pada motivasinya
(2) Menetapkan tujuan sedekat mungkin. Tujuan yang terlalu jauh akan membuat siswa lalai dan merasa tenang karena menganggap masih ada hari esok untuk memperbaiki diri. Hendaknya siswa selalu diingatkan untuk segera mencapai tujuan jangka pendek dalam waktu yang singkat. Misalnya dalam dua jam pelajaran dia harus menguasai materi tertentu dan mampu menyelesaikan dua soal dengan baik. Bandingkan dengan tujuan jangka panjang: kelulusan, naik kelas, atau yang lebih muluk lagi yaitu menjadi orang yang berguna bagi bangsa, negara dan agama. Semakin dekat tujuan, semakin tinggi semangat untuk mencapainya.
(3) Tanamkan konsep now and here. Guru perlu membantu siswa menyadari pentingnya keberadaan dirinya pada saat ini (now) dan disini (here). Apa yang dicita-citakan di masa depan, sangat tergantung pada detik ini dan di sini. Tak ada kesempatan esok hari untuk memperbaiki diri. Esok tak bisa diandalkan karena esok tak pernah datang. Yang ada hanyalah sekarang.
(4) Melatih siswa banyak bertanya, baik untuk diajukan maupun untuk dijawabnya sendiri.



Dengan prinsip 5W+1H (what, who,when, where, why and how) diharap siswa dapat mengasah kekritisannya dalam menghadapi segala hal yang berkaitan dengan pelajaran. Penerapannya, siswa dibimbing untuk terbiasa mempertanyakan segala hal yang tidak diketahuinya, dan untuk memperoleh jawabnya, mereka diharuskan membaca atau meneliti lalu menyampaikannya lagi secara lisan maupun tertulis kepada orang lain. Kekritisan ini juga dapat diaplikasian dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah kehidupannya di kemudian hari.

Guru Berkualitas untuk Pendidikan Berkualitas

Oleh: Lorentina, S.Pd

Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan SDM yang berkualitas pula. Guru merupakan figur sentral dalam pelaksanaan pendidikan. Menyoal kualitas pendidikan nasional berarti menyoroti kualitas guru. Namun apa artinya menggugat kualitas guru sementara banyak faktor pendukung lahirnya guru berkualitas belum ditangani secara serius.
Untuk meningkatkan harkat dan martabatnya, guru harus punya “nilai jual” yang tinggi. Dalam hal ini kualitas adalah jawabannya. Lalu bagaimana caranya meningkatkan kualitas guru? Apa cukup dengan penataran, sosialisasi program atau pembekalan ini itu? Memang itu banyak sisi positifnya. Tapi what next? Bagaimana kenyataan selanjutnya? Guru menjalani hari dengan rutinitas mengajar. Sementara itu, segala hal berkembang. Perkembangan tak dapat diikuti bila hanya berdiam diri.
Untuk mengikuti perkembangan, guru harus senang membaca. Minimal memiliki koleksi buku populer terbaru yang berkaitan dengan bidang ajarnya. Bila guru hanya menyampaikan materi yang bersumber pada buku-buku lama, dikhawatirkan akan ketinggalan informasi karena pengetahuan sesantiasa berkembang. Guru yang ingin maju biasanya tertarik pada hal-hal di luar bidang kajiannya sehingga berminat untuk membaca berbagai macam buku. Selain untuk menambah wawasan dan daya kritis, juga membuat siswa akan merasakan kesegaran informasi dari materi yang berkaitan dengan pelajaran tsb.
Demikian halnya dengan surat kabar. Segala informasi aktual terangkum didalamnya. Begitu vitalnya informasi di zaman ini hingga ada anggapan bahwa bila seseorang menguasai informasi, maka dunia ada dalam genggamannya. Memang tidak mungkin untuk menguasai segalanya, tapi minimal guru dapat mengikuti isi pebincangan aktual dan perkembangan hal-hal terbaru.
Untuk menguasai informasi dengan baik, diperlukan teknologi. Tak perlu malu mengakui bahwa masih banyak guru yang belum kenal internet. Jangankan internet, mengoperasikan komputer pun masih banyak yang belum cakap. Sementara itu, siswa telah beberapa langkah di depan. Akibatnya terjadilah kesenjangan antara kemampuan siswa dan guru. Tidak salah bila siswa lebih maju. Yang salah adalah bila guru tidak termotivasi untuk mengimbanginya.
Setelah mampu memiliki buku terbaru, berlangganan koran dan internet, yang dibutuhkan guru adalah waktu. Kapan guru punya waktu untuk membaca, menulis dan mengembangkan diri bila dalam sehari harus mengajar di beberapa sekolah, memberi les di sana sini atau bahkan mengojek hingga larut malam? Lebih menyedihkan lagi bila nyatanya untuk memenuhi kebutuhan primer saja masih kesulitan.
Peningkatan kualitas guru memerlukan kerjasama yang baik antara guru dan pemerintah. Bila alokasi 20% dana pendidikan benar-benar terwujud, maka seabrek masalah guru seperti kekurangan guru, kualifikasi pendidikan dan kesejahteraan dapat diatasi. Kurangnya kesempatan dan kemampuan guru untuk mengembangkan diri adalah salah satu penyebab terhambatnya mewujudkan pendidikan nasional yang berkualitas. Di sisi lain, adalah sia-sia bila kesejahteraan guru meningkat namun guru tidak mengalokasikan pendapatannya untuk mengembangkan diri, melainkan sibuk merencanakan renovasi rumah atau mengambil kredit mobil. Maka, yang tak kalah pentingnya adalah motivasi guru itu sendiri untuk meningkatkan kemampuannya. Apa artinya ensiklopedi berderet di lemari kaca dan koran diantar loper setiap pagi bila tak ada dorongan untuk membaca dan megkritisi situasi