Oleh: Lorentina, S.Pd
“Siswa ini tidak memiliki motivasi”. Demikian ungkapan yang sering kita dengar ketika mengomentari siswa yang tidak memperlihatkan perubahan sikap atau hasil belajar. Komentar di atas tidak boleh berhenti sampai disitu. Guru harus mencari tahu penyebab mengapa siswa tidak memiliki motivasi. Apakah motivasi merupakan barang mewah dan langka dalam dunia pendidikan sehingga tidak setiap siswa dapat memilikinya? Dapatkah motivasi ditumbuhkan dan bagaimana caranya?
“Siswa ini tidak memiliki motivasi”. Demikian ungkapan yang sering kita dengar ketika mengomentari siswa yang tidak memperlihatkan perubahan sikap atau hasil belajar. Komentar di atas tidak boleh berhenti sampai disitu. Guru harus mencari tahu penyebab mengapa siswa tidak memiliki motivasi. Apakah motivasi merupakan barang mewah dan langka dalam dunia pendidikan sehingga tidak setiap siswa dapat memilikinya? Dapatkah motivasi ditumbuhkan dan bagaimana caranya?
Secara singkat dan sederhana, motivasi berarti dorongan atau kesiapsediaan melakukan sesuatu. Setiap perilaku manusia pada hakikatnya didasari motif tertentu baik disadari maupun tidak. Motivasi dapat tumbuh dengan sendirinya (internal), namun lingkungan pun dapat menjadi stimulator yang efektif untuk memotivasi (eksternal.
Dalam dunia pendidikan, motivasi memiliki peran penting terutama yang berkaitan dengan usaha siswa dalam mengoptimalkan potensinya. Berbagai upaya pasti telah ditempuh guru untuk meningkatkan motivasi siswa. Namun terkadang hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Memotivasi itu tidak sekadar cuap-cuap menuturkan nasehat panjang lebar bahwa masa depan itu penting karena pada dasarnya siswa juga menyadari hal itu. Yang harus dicari penyebabnya adalah mengapa siswa masih berleha-leha padahal dia tahu kebenaran nasehat yang guru ucapkan.
Motivasi, sebagai suatu kekuatan, bukan merupakan substansi yang langsung dapat diamati. Namun, dapat diidentifikasi dari beberapa indikatornya, yaitu dari lama tidaknya siswa melakukan kegiatan, frekuensi kegiatan, ketekunan mencapai tujuan, dan bagaimana pengorbanannya dalam mencapai tujuan (uang, tenaga, waktu, pikiran bahkan nyawa).
Guru memiliki peran strategis dalam membantu siswa untuk meningkatkan motivasinya. Tidak perlu kecewa terhadap respon dan hasil yang didapat, yang penting guru telah dan terus berusaha. Seribu guru pasti memiliki beribu cara, namun setidaknya beberapa upaya di bawah ini dapat bermanfaat dan menambah khasanah pemahaman kita dalam membimbing siswa.
(1) Tidak pelit memberikan pujian bila siswa memang pantas mendapatkannya. Dengan pujian yang sesuai (tidak berlebihan), siswa akan merasa dirinya berharga. Perasaan berharga akan memengaruhi konsep diri yang pada akhirnya berpengaruh pula pada motivasinya
(2) Menetapkan tujuan sedekat mungkin. Tujuan yang terlalu jauh akan membuat siswa lalai dan merasa tenang karena menganggap masih ada hari esok untuk memperbaiki diri. Hendaknya siswa selalu diingatkan untuk segera mencapai tujuan jangka pendek dalam waktu yang singkat. Misalnya dalam dua jam pelajaran dia harus menguasai materi tertentu dan mampu menyelesaikan dua soal dengan baik. Bandingkan dengan tujuan jangka panjang: kelulusan, naik kelas, atau yang lebih muluk lagi yaitu menjadi orang yang berguna bagi bangsa, negara dan agama. Semakin dekat tujuan, semakin tinggi semangat untuk mencapainya.
(3) Tanamkan konsep now and here. Guru perlu membantu siswa menyadari pentingnya keberadaan dirinya pada saat ini (now) dan disini (here). Apa yang dicita-citakan di masa depan, sangat tergantung pada detik ini dan di sini. Tak ada kesempatan esok hari untuk memperbaiki diri. Esok tak bisa diandalkan karena esok tak pernah datang. Yang ada hanyalah sekarang.
(4) Melatih siswa banyak bertanya, baik untuk diajukan maupun untuk dijawabnya sendiri.
(1) Tidak pelit memberikan pujian bila siswa memang pantas mendapatkannya. Dengan pujian yang sesuai (tidak berlebihan), siswa akan merasa dirinya berharga. Perasaan berharga akan memengaruhi konsep diri yang pada akhirnya berpengaruh pula pada motivasinya
(2) Menetapkan tujuan sedekat mungkin. Tujuan yang terlalu jauh akan membuat siswa lalai dan merasa tenang karena menganggap masih ada hari esok untuk memperbaiki diri. Hendaknya siswa selalu diingatkan untuk segera mencapai tujuan jangka pendek dalam waktu yang singkat. Misalnya dalam dua jam pelajaran dia harus menguasai materi tertentu dan mampu menyelesaikan dua soal dengan baik. Bandingkan dengan tujuan jangka panjang: kelulusan, naik kelas, atau yang lebih muluk lagi yaitu menjadi orang yang berguna bagi bangsa, negara dan agama. Semakin dekat tujuan, semakin tinggi semangat untuk mencapainya.
(3) Tanamkan konsep now and here. Guru perlu membantu siswa menyadari pentingnya keberadaan dirinya pada saat ini (now) dan disini (here). Apa yang dicita-citakan di masa depan, sangat tergantung pada detik ini dan di sini. Tak ada kesempatan esok hari untuk memperbaiki diri. Esok tak bisa diandalkan karena esok tak pernah datang. Yang ada hanyalah sekarang.
(4) Melatih siswa banyak bertanya, baik untuk diajukan maupun untuk dijawabnya sendiri.
Dengan prinsip 5W+1H (what, who,when, where, why and how) diharap siswa dapat mengasah kekritisannya dalam menghadapi segala hal yang berkaitan dengan pelajaran. Penerapannya, siswa dibimbing untuk terbiasa mempertanyakan segala hal yang tidak diketahuinya, dan untuk memperoleh jawabnya, mereka diharuskan membaca atau meneliti lalu menyampaikannya lagi secara lisan maupun tertulis kepada orang lain. Kekritisan ini juga dapat diaplikasian dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah kehidupannya di kemudian hari.

