Oleh: Lorentina, S.Pd
Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan SDM yang berkualitas pula. Guru merupakan figur sentral dalam pelaksanaan pendidikan. Menyoal kualitas pendidikan nasional berarti menyoroti kualitas guru. Namun apa artinya menggugat kualitas guru sementara banyak faktor pendukung lahirnya guru berkualitas belum ditangani secara serius.
Untuk meningkatkan harkat dan martabatnya, guru harus punya “nilai jual” yang tinggi. Dalam hal ini kualitas adalah jawabannya. Lalu bagaimana caranya meningkatkan kualitas guru? Apa cukup dengan penataran, sosialisasi program atau pembekalan ini itu? Memang itu banyak sisi positifnya. Tapi what next? Bagaimana kenyataan selanjutnya? Guru menjalani hari dengan rutinitas mengajar. Sementara itu, segala hal berkembang. Perkembangan tak dapat diikuti bila hanya berdiam diri.
Untuk mengikuti perkembangan, guru harus senang membaca. Minimal memiliki koleksi buku populer terbaru yang berkaitan dengan bidang ajarnya. Bila guru hanya menyampaikan materi yang bersumber pada buku-buku lama, dikhawatirkan akan ketinggalan informasi karena pengetahuan sesantiasa berkembang. Guru yang ingin maju biasanya tertarik pada hal-hal di luar bidang kajiannya sehingga berminat untuk membaca berbagai macam buku. Selain untuk menambah wawasan dan daya kritis, juga membuat siswa akan merasakan kesegaran informasi dari materi yang berkaitan dengan pelajaran tsb.
Demikian halnya dengan surat kabar. Segala informasi aktual terangkum didalamnya. Begitu vitalnya informasi di zaman ini hingga ada anggapan bahwa bila seseorang menguasai informasi, maka dunia ada dalam genggamannya. Memang tidak mungkin untuk menguasai segalanya, tapi minimal guru dapat mengikuti isi pebincangan aktual dan perkembangan hal-hal terbaru.
Untuk menguasai informasi dengan baik, diperlukan teknologi. Tak perlu malu mengakui bahwa masih banyak guru yang belum kenal internet. Jangankan internet, mengoperasikan komputer pun masih banyak yang belum cakap. Sementara itu, siswa telah beberapa langkah di depan. Akibatnya terjadilah kesenjangan antara kemampuan siswa dan guru. Tidak salah bila siswa lebih maju. Yang salah adalah bila guru tidak termotivasi untuk mengimbanginya.
Setelah mampu memiliki buku terbaru, berlangganan koran dan internet, yang dibutuhkan guru adalah waktu. Kapan guru punya waktu untuk membaca, menulis dan mengembangkan diri bila dalam sehari harus mengajar di beberapa sekolah, memberi les di sana sini atau bahkan mengojek hingga larut malam? Lebih menyedihkan lagi bila nyatanya untuk memenuhi kebutuhan primer saja masih kesulitan.
Peningkatan kualitas guru memerlukan kerjasama yang baik antara guru dan pemerintah. Bila alokasi 20% dana pendidikan benar-benar terwujud, maka seabrek masalah guru seperti kekurangan guru, kualifikasi pendidikan dan kesejahteraan dapat diatasi. Kurangnya kesempatan dan kemampuan guru untuk mengembangkan diri adalah salah satu penyebab terhambatnya mewujudkan pendidikan nasional yang berkualitas. Di sisi lain, adalah sia-sia bila kesejahteraan guru meningkat namun guru tidak mengalokasikan pendapatannya untuk mengembangkan diri, melainkan sibuk merencanakan renovasi rumah atau mengambil kredit mobil. Maka, yang tak kalah pentingnya adalah motivasi guru itu sendiri untuk meningkatkan kemampuannya. Apa artinya ensiklopedi berderet di lemari kaca dan koran diantar loper setiap pagi bila tak ada dorongan untuk membaca dan megkritisi situasi

Jadi kalo guru yang udah sertifikasi itu artinya sudah berkualitas?.....
BalasHapus